Minggu, 29 Maret 2015

[Review] : "Bumi"

“Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memperoleh semua jawaban. Masa lalu, hari ini, juga masa depan.”


Namanya Raib. Ia seperti anak perempuan berusia 15 tahun pada umumnya. Anak kelas 1 SMA yang bersahabat dengan Seli, dan sering bertengkar dengan anak usil bernama Ali. Sejak usia dua tahun, ia menyimpan sesuatu yang menakjubkan dalam dirinya. Papa, Mama, dan orang-orang di sekitarnya tidak tahu sama sekali tentang rahasia itu. Rahasia tersebut adalah Raib bisa menghilang, hanya dengan menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Ia juga bisa menghilangkan sebuah benda tanpa berbekas.

Berawal dari kecelakaan meledaknya gardu listrik, sebuah kejadian susul menyusul dialami oleh Raib, Seli, dan Ali. Seli terkepung di antara kabel-kabel listrik bertegangan tinggi tetapi ia tidak tersengat. Dibalik seorang anak perempuan biasa, Seli ternyata memiliki kekuatan seperti Raib. Seli bisa menangkap listrik dan mengeluarkan petir dari tangannya. Dan Raib yang hampir saja kejatuhan gardu listrik, seketika membuat gardua listrik tersebut menghilang. Sayangnya, Ali – murid genius yang pernah mengikuti olimpiade fisika termuda – terlanjur mengetahui rahasia Raib dan Seli.

Setelah kejadian tersebut, Raib ditemui oleh Tamus – seorang lelaki kurus yang mengajari Raib untuk menghilangkan benda-benda – dan diajaknya ke sebuah tempat. Raib pun menolak. Untungnya ada Miss Selena – guru Matematika mereka – yang membantu Raib untuk menghadapi Tamus.

Berdasarkan petunjuk dari Miss Selena – yang ternyata juga memiliki kekuatan – Raib  membuka buku Matematikanya dan menghilangkannya. Ternyata buku tersebut tidak benar-benar menghilang. Sampul buku tersebut mengeluarkan cahaya berbentuk bulan sabit. Raib, Seli, dan Ali seakan tersedot ke dalam sebuah lorong panjang dan mendarat di tempat yang tidak ia kenali sama sekali. Tempat itu seperti ratusan bulan yang menggantung dan hanya Raib yang mengetahui bahasa yang digunakan orang-orang di sana. Mereka terdampar di rumah Ilo, seorang desainer pakaian yang ramah.

Raib, Seli, dan Ali ternyata sedang berada di kota Tishri. Kota dengan peradaban yang sangat maju. Sebagian besar kehidupan berada di kota bawah tanah. Hanya orang-orang kaya saja yang memiliki Rumah Balon di atas permukaan. Kota Tishri berada di Klan Bulan.


“Dunia ini tidak sesederhana yang kamu lihat. Dunia ini seperti game yang jago kamu mainkan.” – halaman 246


Untuk membantu Raib, Seli, dan Ali kembali ke Bumi, Ilo mengajak ketiganya untuk menemui Av – penjaga bagian terlarang perpustakaan sentral – yang mengungkap bahwa Raib berasal dari Klan Bulan dan Seli berasal dari Klan Matahari yang hidup di Bumi. Buku PR Matematika milik Raib adalah buku kehidupan yang sedang dicari-cari Tamus untuk membuka penjara bayangan di Bawah Bayangan dan membebaskan si Tanpa Mahkota.

Menurut Av, setiap yang berurusan dengan Tamus tidak akan ada yang lolos. Apakah Raib dan kawan-kawannya akan selamat dan kembali ke Bumi?

** Selama ini cuma baca novel-novel Tere Liye yang berbau dengan perasaan dan anak-anak-anak seperti serial anak-anak mamak. Tapi setelah baca novel ini, langsung kepikiran ‘dunia yang seperti itu apa benar-benar ada?’. Keren, menurutku. Jadi penasaran sama sekuel keduanya berjudul Bulan.


Keterangan buku:
Judul                     : Bumi
Penulis                   : Tere Liye
Penerbit                 : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                 : Ketiga, Februari 2014
Halaman                : 440 hlm ; 20 cm
ISBN                      : 978-602-0112-9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terbuka untuk dikritik dan saran. Silakan :)